News
Home / News / Adela Kanasya Adies Dorong Profesionalisme Pustakawan Perkuat Literasi Nasional

Adela Kanasya Adies Dorong Profesionalisme Pustakawan Perkuat Literasi Nasional

Adela Kanasya (keenam dari kiri) saat Kunjungan Kerja Spesifik di Jawa Timur, Kamis (20/08)
Adela Kanasya (keenam dari kiri) saat Kunjungan Kerja Spesifik di Jawa Timur, Kamis (20/08)

JAKARTA, PARLEMEN.CO.ID – Penguatan literasi nasional tidak hanya bergantung pada ketersediaan buku dan gedung perpustakaan. Kualitas tenaga pengelola perpustakaan juga menjadi faktor penting agar layanan literasi mampu menjawab kebutuhan masyarakat di tengah perkembangan teknologi.

Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai Golkar, Adela Kanasya Adies, menilai peningkatan kompetensi dan profesionalisme pustakawan harus menjadi perhatian dalam strategi pembangunan literasi nasional.

Menurut Adela, pustakawan memiliki peran strategis dalam memastikan perpustakaan tidak sekadar menjadi tempat menyimpan koleksi buku, tetapi berkembang menjadi pusat pembelajaran dan pengembangan pengetahuan masyarakat.

Hal itu disampaikan Adela dalam keterangan tertulis usai Kunjungan Kerja Spesifik Bidang Perpustakaan/Literasi Komisi X DPR RI di Jawa Timur, Kamis (20/8/2026).

5.565 Pustakawan Sudah Bersertifikat

Adela mengungkapkan, berdasarkan data Perpustakaan Nasional, hingga 2026 sebanyak 5.565 pustakawan telah dinyatakan kompeten melalui proses sertifikasi.

Legislator PKB Dorong Diplomasi Indonesia untuk Redakan Ketegangan di Timur Tengah

Meski demikian, ia menilai sertifikasi tersebut harus menjadi bagian dari proses berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalisme tenaga perpustakaan.

“Untuk dapat meningkatkan literasi generasi muda, diperlukan berbagai dukungan dari berbagai pihak, baik pusat, daerah sampai dengan desa/kelurahan dan masyarakat,” ujar Adela.

Menurutnya, kebutuhan tenaga perpustakaan semakin kompleks seiring perubahan pola masyarakat dalam memperoleh informasi. Pustakawan dituntut tidak hanya menguasai pengelolaan koleksi, tetapi juga mampu mengikuti perkembangan teknologi dan transformasi layanan perpustakaan.

Transformasi Digital Tak Bisa Tanpa SDM

Adela menilai transformasi digital perpustakaan harus dibarengi dengan kesiapan SDM. Digitalisasi koleksi dan layanan akan sulit memberikan manfaat maksimal apabila tenaga pengelolanya tidak memiliki kompetensi yang sesuai.

Karena itu, peningkatan kapasitas pustakawan perlu diarahkan pada kemampuan mengelola layanan digital, mendampingi masyarakat dalam mengakses informasi, serta membangun komunitas membaca.

DPR Dorong Investasi Swasta untuk Konservasi Biodiversitas

“Selain itu dukungan penganggaran, ketersediaan SDM pengelola perpustakaan, ketersediaan dan keterjangkauan buku-buku penopang literasi, pengembangan komunitas baca masyarakat, serta transformasi perpustakaan penting dilakukan,” jelasnya.

Menurut Adela, keberadaan pustakawan yang kompeten juga semakin penting untuk menghadapi derasnya arus informasi digital. Masyarakat membutuhkan pendampingan agar mampu membaca informasi secara kritis, mengevaluasi sumber, serta membedakan informasi yang dapat dipercaya dan yang menyesatkan.

Anggaran Harus Ikut Diperkuat

Penguatan SDM perpustakaan, kata Adela, tidak dapat dilepaskan dari dukungan anggaran. Pemerintah perlu memastikan Perpustakaan Nasional memiliki ruang fiskal yang cukup untuk mengembangkan layanan sekaligus meningkatkan kualitas tenaga perpustakaan.

“Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas literasi dan kualitas SDM generasi muda, diperlukan dukungan anggaran yang memadai bagi Perpustakaan Nasional. Komisi X DPR RI terus berkomitmen mendorong dan berupaya memenuhi kebutuhan anggaran yang memadai tersebut,” tegasnya.

Ia menilai investasi terhadap pustakawan pada akhirnya merupakan investasi terhadap kualitas manusia Indonesia. Semakin profesional tenaga perpustakaan, semakin besar pula peluang perpustakaan memberikan manfaat kepada masyarakat.

Jenderal Maruli Simanjuntak, dari Kopassus hingga Wakil Panglima TNI

Literasi Harus Masuk Sekolah dan Kampus

Adela juga mendorong agar penguatan literasi tidak hanya dilakukan melalui perpustakaan. Budaya membaca dan kemampuan mengelola informasi perlu menjadi bagian dari sistem pendidikan di sekolah maupun perguruan tinggi.

“Dalam rangka meningkatkan literasi bagi generasi muda di Indonesia, diperlukan upaya yang sistematis dan terencana, yaitu selain aspek pengembangan budaya membaca dilakukan melalui perpustakaan, juga diperlukan pengembangan literasi dengan memasukkan agenda literasi di dalam kurikulum pembelajaran di sekolah-sekolah dan kampus,” pungkasnya.

Dengan memperkuat anggaran, meningkatkan profesionalisme pustakawan, serta mengintegrasikan literasi ke dalam pendidikan, Adela berharap perpustakaan dapat menjadi salah satu fondasi utama dalam mencetak generasi muda yang kritis, adaptif, dan memiliki daya saing tinggi (red)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share