JAKARTA, PARLEMEN.CO.ID – Praktik inovasi di sektor publik dinilai masih menghadapi persoalan serius akibat kuatnya ego sektoral antarinstansi pemerintah. Kondisi tersebut membuat banyak inovasi berjalan sendiri-sendiri dan gagal menghasilkan dampak yang signifikan bagi masyarakat.
Hal itu disampaikan Dadan Sidqul Anwar dalam peluncuran inisiatif InoServe Indonesia: Ekosistem Inovasi Pelayanan Publik, yang digagas melalui Program Kepemimpinan Nasional (PKN) II Kementerian Dalam Negeri.
Menurut Dadan, selama ini berbagai instansi pemerintah berlomba-lomba menciptakan inovasi, termasuk meluncurkan ribuan aplikasi pelayanan publik. Namun, banyak inovasi tersebut tidak terhubung satu sama lain sehingga manfaatnya belum optimal.
Ia menyebut fenomena tersebut sebagai “egosistem”, yakni kondisi ketika inovasi lebih banyak dikembangkan untuk kepentingan institusi masing-masing dibandingkan untuk membangun solusi bersama bagi masyarakat.
“Selama ini inovasi sering kali terjebak dalam fragmentasi antardinas atau silo mentality. Akibatnya, inovasi berjalan sendiri-sendiri dan tidak menghasilkan dampak yang maksimal terhadap kesejahteraan masyarakat,” kata Dadan dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada minimnya inovasi, melainkan pada lemahnya kolaborasi antaraktor yang terlibat dalam pelayanan publik. Padahal, tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini membutuhkan penyelesaian yang lintas sektor dan tidak bisa ditangani oleh satu instansi saja.
Karena itu, Dadan menggagas InoServe Indonesia sebagai upaya untuk mengubah pola inovasi yang terisolasi menjadi ekosistem yang saling terhubung dan berorientasi pada dampak nyata.
“InoServe Indonesia bukan sekadar platform atau program baru. Ini adalah upaya untuk membangun jaringan kolaborasi yang terkoneksi, terbuka, dan fungsional sehingga inovasi dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan inovasi pelayanan publik tidak boleh hanya diukur dari jumlah program atau aplikasi yang diluncurkan. Yang lebih penting adalah bagaimana inovasi tersebut mampu menciptakan nilai publik dan menyelesaikan persoalan masyarakat secara konkret.
Melalui InoServe Indonesia, LAN RI mendorong perubahan paradigma dari budaya kompetisi menuju budaya kolaborasi. Inovasi yang dihasilkan instansi pemerintah diharapkan tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari solusi bersama yang saling melengkapi.
Dadan juga menekankan pentingnya pengukuran dampak dalam setiap program inovasi. Dengan pendekatan berbasis hasil (outcome-based), pemerintah dapat memastikan bahwa setiap kebijakan dan anggaran yang digunakan benar-benar memberikan manfaat sosial dan ekonomi yang terukur.
“Yang kita butuhkan saat ini bukan sekadar banyak inovasi, tetapi inovasi yang mampu menciptakan perubahan nyata dan berdampak langsung bagi masyarakat,” tegasnya.
Melalui transformasi tersebut, Dadan berharap birokrasi Indonesia mampu keluar dari jebakan ego sektoral dan beralih menuju ekosistem inovasi yang lebih kolaboratif, efektif, dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat (RED)

Comment