Nasional
Home / Nasional / Luluk Maknuniah Sarmuji : Pengajian Al-Hidayah Harus Adaptif Tanpa Kehilangan Jati Diri

Luluk Maknuniah Sarmuji : Pengajian Al-Hidayah Harus Adaptif Tanpa Kehilangan Jati Diri

Luluk Maknuniah Sarmuji
Luluk Maknuniah Sarmuji

JAKARTA, PARLEMEN.CO.ID – Dewan Penasehat DPP Pengajian Al-Hidayah Luluk Maknuniah Sarmuji menegaskan pentingnya menjaga jati diri organisasi di tengah perubahan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.

Menurut Luluk, memasuki usia ke-47 tahun, Pengajian Al-Hidayah tidak hanya dituntut mempertahankan nilai-nilai yang menjadi fondasi organisasi, tetapi juga harus mampu menghadirkan program yang relevan dengan perkembangan zaman.

Hal tersebut disampaikan Luluk dalam resepsi puncak Milad ke-47 Pengajian Al-Hidayah yang berlangsung di Aula Lantai 1 DPP Partai Golkar, Jakarta, pada 4 Oktober 2026.

Milad ke-47 Pengajian Al-Hidayah mengusung tema “Bersatu dalam Ukhuwah, Berkhidmat untuk Umat, Berkarya untuk Indonesia.”

Luluk Tekankan Pentingnya Menjaga Fondasi Organisasi

Luluk memandang perjalanan 47 tahun Pengajian Al-Hidayah sebagai amanah yang harus dijaga dan diteruskan. Menurutnya, usia organisasi bukan sekadar angka yang menandai lamanya sebuah organisasi berdiri.

Adela Kanasya Adies Minta Mahasiswa Ciptakan Peluang Kerja Lewat Inovasi

Lebih dari itu, perjalanan panjang tersebut menjadi pengingat terhadap nilai-nilai yang selama ini menjadi fondasi organisasi.

“Perjalanan 47 tahun Pengajian Al-Hidayah sebagai sebuah amanah yang perlu dijaga dan dilanjutkan. Usia organisasi bukan sekadar penanda perjalanan waktu, tetapi juga menjadi pengingat akan tanggung jawab untuk mempertahankan nilai-nilai yang telah menjadi fondasi organisasi,” ujar Luluk.

Menurut Luluk, menjaga fondasi organisasi bukan berarti mempertahankan seluruh pola lama tanpa perubahan. Organisasi tetap perlu melihat perkembangan masyarakat dan menyesuaikan bentuk kegiatan agar keberadaannya tetap memberikan manfaat.

Ia menilai tantangan organisasi ke depan justru terletak pada kemampuan menjaga keseimbangan antara mempertahankan jati diri dan merespons kebutuhan masyarakat.

Dalam konteks tersebut, ukhuwah menjadi salah satu nilai penting yang harus terus dipelihara. Kebersamaan dinilai menjadi modal untuk memastikan perubahan organisasi tetap berjalan dalam semangat persaudaraan.

Hetifah Sjaifudian Ungkap Makna 47 Tahun Al-Hidayah Hadapi Tantangan Zaman

“Ukhuwah menjadi salah satu kekuatan penting dalam menjaga keberlanjutan organisasi. Kebersamaan tidak hanya dimaknai sebagai hubungan antar pengurus dan anggota, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian, kerja bersama, serta kontribusi nyata bagi masyarakat,” kata Luluk.

Ia menilai ukhuwah yang kuat dapat membantu organisasi menghadapi perubahan tanpa kehilangan arah dan karakter yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Program Al-Hidayah Diminta Tetap Relevan

Luluk juga menyoroti pentingnya menghadirkan program yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, pengabdian organisasi harus terus berkembang mengikuti persoalan dan kebutuhan umat.

Rangkaian Milad ke-47 menjadi salah satu contoh bagaimana Pengajian Al-Hidayah menghadirkan kegiatan dengan beragam pendekatan.

Kegiatan tersebut diawali dengan Senam Sehat Lansia yang sekaligus menjadi momentum peluncuran Senam Pengajian Al-Hidayah oleh Ketua Umum Pengajian Al-Hidayah Hetifah Sjaifudian.

Luluk Maknuniah Sarmuji Tegaskan Pengajian Al-Hidayah Siap Dukung Program Pemerintah

Senam Pengajian Al-Hidayah tersebut dirancang menjadi panduan yang dapat digunakan oleh Pengajian Al-Hidayah di berbagai wilayah Indonesia.

Kegiatan olahraga bersama itu tidak hanya diarahkan untuk menjaga kesehatan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan, silaturahmi, dan penguatan ukhuwah.

Selain senam, rangkaian Milad ke-47 juga diisi dengan Bazar UMKM dan resepsi puncak Milad. Berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya organisasi untuk menghadirkan manfaat yang bersentuhan dengan kehidupan masyarakat.

Menurut Luluk, kegiatan organisasi perlu terus dikembangkan agar tidak berhenti pada seremoni. Setiap program diharapkan mampu memberikan manfaat dan memperkuat hubungan antara organisasi dengan masyarakat.

Semangat tersebut sejalan dengan tema Milad ke-47, “Bersatu dalam Ukhuwah, Berkhidmat untuk Umat, Berkarya untuk Indonesia.”

Bagi Pengajian Al-Hidayah, tema tersebut menjadi pijakan untuk menjaga persaudaraan, memperkuat pengabdian, sekaligus mendorong lahirnya karya yang memberikan manfaat bagi bangsa.

Bagi Luluk, keberadaan jaringan organisasi hingga berbagai daerah menjadi modal penting untuk memperluas manfaat pengabdian.

Memasuki usia 47 tahun, Pengajian Al-Hidayah dihadapkan pada kebutuhan untuk terus memperkuat soliditas sekaligus beradaptasi dengan perkembangan masyarakat.

Luluk berharap organisasi mampu mempertahankan nilai-nilai yang telah menjadi fondasinya sejak berdiri pada 5 Oktober 1979, namun tetap terbuka terhadap perkembangan dan kebutuhan baru.

Dengan menjaga jati diri sekaligus memperkuat kemampuan beradaptasi, Pengajian Al-Hidayah diharapkan dapat melanjutkan perjalanan panjangnya dengan program yang semakin relevan dan manfaat yang semakin luas bagi umat.

Bagi Luluk, usia 47 tahun bukan titik akhir perjalanan, melainkan momentum untuk memperkuat amanah, menjaga ukhuwah, dan menyiapkan langkah pengabdian organisasi pada masa mendatang.

Sementara itu, Ketua Panitia Milad ke-47 Pengajian Al-Hidayah, Endah Cahya Immawati, menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan merupakan bagian dari penguatan peran organisasi dalam berkontribusi kepada umat, bangsa, dan negara.

Menurut Endah, kegiatan Pengajian Al-Hidayah tidak hanya dilaksanakan di tingkat pusat, tetapi juga menjangkau tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, hingga pelosok desa.(red)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share